Patriotisme Sebagai Spirit Gerakan Pemuda Indonesia

“wahai, apakah sebabnya kecintaan terhadap bangsa dari banyak nasionalis indonesia lalu menjadi kebencian jikalau dihadapkan pada orang-orang indonesia yang berkeyakinan islamistis? Apakah sebabnya kecintaan itu berbalik menjadi permusuhan ketika berhadapan dengan oang-orang indonesia yang bergerak Marxsis”??

( **Sukarno/Dibawah Bendera Revolusi**)

Sesaat kalimat diatas mengingatkan kita akan sosok yang sangat gandrung akan persatuan, sang proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia “SOEKARNO” kalimat tersebut merupakan seruan, agitasi, sekaligus permohonan dari sang penyambung lidah rakyat tersebut dalam menyatukan pertentangan ideologi yang pada saat itu sudah sampai tataran yang sangat ekstrem. Keinginan tersebut kemudian terkonseptualisasi yang oleh sukarno disebut Nasionalisme, Agama dan Komunis atau yang lebih kita kenal dengan NASAKOM. Oleh sebagian pakar dan bahkan fakta philolosfis dari ketiga pemahaman tersebut dengan sangat tegas menyatakan bahwa hal itu adalah sesuatu yang mustahil. Yang pada akhirnya konsep Nasakom ini menjadi sebuah boomerang politik tersendiri bagi sukarno yang berujung pada tergesernya ia dari tampuk kepemimpinan di negri ini.

Nasionalisme, Agama dan Komunisme dalam kajian epistemik sangatlah tegas perbedaannya. Kaum nasionalis (nasionalisme ) paham yang menjadikan bangsa dan keutamaan bangsa diatas segalanya. menginginkan sebuah dimana dinamika dan mekanisme kenagaraan yang berjalan merupakan produk yang lahir kesepahaman bersama dari semua yang mempunyai cita-cita yang sama ( se-bangsa )kontrak sosial yang selanjutnya kita maknai sebagai demokratisasi. Sementra Agama sebagai sebuah ajaran mengandung pesan ilahiah melihat dinamika dan mekanisme kenegaran yang konstitusional telah diatur dalam sebuah kitab yang suci atau dalam hal ini ;  contoh teokrasi. Dan disisi yang lain Marxsis yang lahir dari matrialisame menolak keberadaan agama dalam sistem sosial bahkan merka cenderung ateis, dan dalam mekanisme kenegaraanya maka demokrasi diprioritaskan pada tujuan “ bukan pada cara serta subtansi demokrasi” sehingga pada tahap pembentukan komunisme itu sendiri maka negara terkelola secarah otoriter di bawah kepemimpinan diktator-ploretariat (sosialisme ) atau dalam hal ini kepemilikan bersama yang  pengaturan dan distibusinya diatur oleh negara. Sukarno sendiri adalah sosok nasionalis, namun  ia lebih menyebut dirinya sebagai sang patriot. Hingga masi dalam sumber yang sama sukarno ( DBR ) dengan tegas mengatakan bahwa “saya ini sang patriot yang tak mengenal pengecualian “.

Terlepas dari ketidaksamaan secarah philosofis ketiga pehaman tersebut  akan tetapi menurut Sukarno ia hanya berbeda pada wilayah taktik akan tetapi punya tujuan yang sama ; Indonesia Merdeka.
Sebelum terlalu jauh dan meskipun memang tulisan tidak bermaksud untuk membedah ketiga pemahaman tersebut, akan tetapi sangat penting bagi kita untuk mengetahui musabab dari lahirnya gagasan Nasakom tersebut. Bahwa pada saat itu menurut sukarno kehadiran orang-orang eropa dikawasan Asia telah banyak melakukan penjarahan terhadap kekayaan negara-negara yang berada dikawasan Asia dan yang tidak lebih bertujuan untuk memperkaya negara mereka sendiri.
bertahun-tahun rakyat eropah mempertuankan negri-negri asia. Berwindu-windu rezeki Asia masuk kenegrinya. Teristimewa eropah barat yang bukan main tambah kekayaan. Begitulah tragisnya negri-negri jajahan dan keinsyafan akan peristiwa ini menyadakarkan rakyat-rakyat jajahan itu; sebab, walaupun lahirnya sudah kalah dan tahkluk, maka spirit of Asia masilah kekal. Roch Asia masih hidup sebagai api yang tiada padamnya ! keinsyafan akan peristiwa ini pulah yang sekarang menjadi nyawa pergerakan rakyat indonesia kita yang walaupun  dalam maksudnya sama, ada mempunyai tiga sifat; Nasionalistis, Islamistis dan Marxsistis-lah adanya”.

Sekali lagi tanpa harus masuk dalam dalam perdebatan ketiga pemahaman tersebut, akan tetapi yang menarik dari hal tersebut bahwa sosok seorang Sukarno dalam meinginkan lahirnya sebuah persatuan sangatlah luar biasa. Bahwa Sukarno adalah seorang Nasionalis tulen yang pada saat itu perbedaan ideologi sangat ekstrim sehingga bagi nasionalis yang lain-nya kontaminasi dari ajaran islam dan marxis adalah sesuatu yang sangat keliru dan tidak ideologis.
Sebagaimanayang kita ketahui bersama pada saat itu permusuhan yang lahir dari perbedaan ideologi telah mewabah diseluruh dunia sehingga mempertahankan ideologi menjadi sebuah trend. Sukarno adalah orang  yang sangat tekun dalam mempelajari islam dan kontruksi pikirnya tidak terpengaruh oleh marxsis akan tetapi ia siap berbeda dengan Nasionalis-nasionalis lainnya dalam rangka mewujudkan persatuan, dan inilah yang ia maksud sebagai sikap atau patriotisme sejati yang tidak lahir dari nasionalisme simbolik.

Nasakom pada dasarnya adalah sebuah cita-cita besar Sukarno dalam menghadirkan Indonesia yang pada saat itu ia sebut sebagai Indonesia-muda sebagai Spirit of Asia dan menjadikannya sebagai roh perjuangan rakyat asia dalam melawan imperialisem barat. Sehingga ini pula yang menjadi dasar politik mercesuar yang digalakkan oleh sukarno pada saat itu atau dalam hal ini pencitraan Bangsa Indonesia dimata Internasional. Dan Nasakom sendiri dengan perbedaan yang terkandung didalamnya oleh Sukarno sekalipun belum menjelaskan cara penyatuan ketiga pemahaman tersebut oleh karena ia memang lebih melihat semangat dan tujuan ketiga pemahaman tersebut yang menurutnya mempunyai kesamaan. Sehingga dengan tegas ia mengatakan bahwa kita jangan lupa; “bahwa kita jangan lupa manusia yang memperjuangkan Islamisme, dan marxisisme serta manusia yang menjalankan pergerakan Nasionalisme mempunyai keinginan hidup menjadi satu ”  dan baginya itulah prinsip sang patriot sejati.
“ENTAH BAGAIMANA TERCAPAINYA PERSATUAN ITU; ENTAH PULAH BAGAIMANA RUPANYA PERSATUAN ITU, AKAN TETAPI TETAPLAH KAPAL YANG MEMBAWA KITA KE INDONESIA MERDEKA ITU, IALAH KAPAL PERSATUAN ADANYA. MAHATMA, JURUMUDI DARI KAPAL PERSATUAN KINI BARANGKALI BELUM ADA AKAN TETAPI YAKINLAH KITA PULA, BAHWA KELAK KEMUDIAN HARI MUSTILAH DATANG SAATNYA, YANG SANG MAHATMA ITU BERDIRI DITENGAH KITA!!…
Demikian ia menulis kata pengantarnya tentang Nasionalisme, islamisme dan Marxsime yang ia letakkan dan perjuangkan serta ia impikan.

Transformasi militansi  menuju patriotisme pemuda.
Memaknai keberadaan Bangsa indonesia saat ini maka pada dasarnya kita belumlah merdeka sehingga amanah konstitusional Negara ini yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yakni penjajahan di dunia haruslah terhapuskan belum terlaksanakan. Jika sebelumnya kita terjajah secarah terang-terangan negara luar ( hard eksploitasion ) maka pada saat ini formulasi penjajahan yang dilakukan oleh negara lain terhadap kita cenderung lebih canggih, lembut ( shoft eksplotasion )namun berhasil merontokkan sendi-sendi kebangsaan kita dan bahkan lebih parah. Dan yang lebih memilukan, kita saat ini telah saling mengeksploitasi satu sama lain. Penguasaan aset dalam negeri oleh pihak asing, leberaliasasi pemikiran yang tidak sesuai dengan corak budaya Bangsa kita adalah sebagian eksploitasi yang kita alami. Sehingga; Indonesia belum Merdeka.

Mengharapkan perubahan yang didorong oleh semangat dan gerakan pemuda hari ini telah melahirkan asumsi pesimis dan bahkan apatis oleh Bangsa ini. Problemnya adalag citra dan pencitraan pemuda saat ini nampaknya telah melahirkan kekecewaan yang sangat mendalam. Masi terngiang dikepala kita betapa organisasi permuda terbesar dibangsa ini berebut tampuk kekuasan internal dan berujung pada anarkisme dan pelibatan mijau hijau sebagai solusi terakhir dan tentu saja adalah melahirkan kekecewaan bagi mereka yang kalah. Namun dilain sisi yang sangat kecewa adalh harapan bangsa ini terhadap pemuda nampaknya akan terjawab dengan kondisi yang lain. Perbedaan itu adalah rahmat dan telah menjadi kebutuhan dialektika sosial, akan tetapi ketika perbedaan itu berujung pada kehampaan dan desktruksi nilai kejuangan pemuda itu sendiri maka yang lahir adalah kegagalan.

perbedaan yang terjadi saat ini antara sesama pemuda telah menjadi sebuah ironi tersendiri bangsa yang telah tertati oleh dinamika politik yang kisruh dan tak berkesudahan disebabkan oleh para politisi-politisi usang ( politisi tua ). dikatakan ironi oleh karena perbedaan tersebut telah mengarah pada pada pertentangan dalam makana negatif dan menjeremuskan arah bangsa ini pada ancaman disintegrasi.

menelusuri perbedaan sebagai sesuatu hal yang lumrah dalam iklim demokrasi, bahkan perbedaan adalah sebuah keharusan dalam hal dialektika sosial membawa kita pada sebuah kesimpulan yang sederhana yakni perbedaan tersebut tentu bermula dari cara pandang yang berbeda, dan kelak membentuk metodologi dan yang sangat disayangkan perbedaan pandang tersebut membentang tujuan yang berbeda pula. dalam konklusi yang begitu sederhana dapat disimpulakan bahwa pandangan tersebut tentu linear dengan perbedaan pembentukan pandangan itu sendiri, yang tentunya salah satunya lahir dari latar belakang yang berbeda baik cultur maupun secarah institusi. sebuah kenyataan yang miris, bahwa dikenyataan Bangsa yang syarat dengan persatuan dan kesatuan oleh segenap entitas atau elemen yang ada didalamnya, terdapat sebuah kelompok yang memiliki tujuan yang berbeda, kelompok yang tidak mampu menjiwai kesatuan sebagai tujuan bersama, dan kelompok itu adalah kelompok pemuda. perbedaan yang menghingapi kelompok pemuda inilah yang layak kita sebut sebagai kelompok muda yang tidak memiliki nasionalisme, kelompok muda yang konservatife, ortodoks atau kelompok muda yang terjerembab kedalam suasana militansi yang miskin nilai yaitu patriotisme.

“Militansi sebagaimana yang gambarkan oleh Hasan Al-Banna tokoh pergerakan ikhwanul muslimin di mesir bahwa “militansi adalah merupakan hasil dari kritalisasi ideologi, dia menjadi obsesi yang melebur bersama mimpi seorang jundi ( kader ). Militansi adalah kemampuan mengkomparasikan seluruh pikir, sikap, dan hanya untuk memperjuangkan ide dan prinsip islam. Sehingga seluruh elemen ruhiyah, jasadiah terfokus pada satu azzam, sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk allah rabb semesta alam”

“Selanjutnya menurut  Muhammad Zainuddin Abdul Majid salah ulama terpandang dibangsa ini pendiri gerakan Nahdatul Whatan di Nusa tenggara Barat dan Mantan penasehat MUI bahwa “militansi itu bernilai pedagogik dalam artian bernilai pendidikan. Atau dalam hal ini militansi adalah sikap seorang kader yang memiliki potensi dan komitmen terhadap organisasinya dan bersifat transformatif.

Sehingga  dari penjelasan kedua tokoh diatas jelas bahwa militansi merupakan  fundamental code of culture yang diyakini oleh sebuah organisasi dan menjadi pijakan gerakan bagi semua kadernya. Dalam hal ini maka militansi adalah sebuah spirit dalam mencapai tujuan organisasi itu sendiri yang ketika ia tidak tranpormatif dan dialogis maka ia akan membentuk sektrianisme. olehnya itu Kondisi gerakan pemuda yang terjerembab pada pemkanaan nilai sebuah militansi yang keliru menjadi akar permasalahan ketidak menyatuan gerakan pemuda dibangsa ini.

Perbedaan pemuda dibangsa ini bukanlah sesuatu yang baru dibangsa, bahkan telah menjadi bagian yang cuku menarik dalam sejarah pembentukan Bangsa ini. Sehingga perbedaan sebenarnya bukanlah sebuah hambatan melainkan sebuah potensi besar bagi Bangsa ini dalam meraih peradaban yang muliah yakni kebersamaan dalam keragaman.

Dalam sejarah perjuangan pemuda itu sendiri bahwa bangsa ini dulu hidup dan berkembang kelompok pemuda yang mempunyai semangat kejuangan yang berbeda-beda jong ambon, jong celebes, budi utomo jong arab. Dan banyak lagi kelompok pemuda yang pernah hadir dibangsa ini dan justru mereka-mereka yang berebeda inilah yang merekomendasikan kader-kadernya dalam sebuah kongres pemuda yang saat ini sering kita peringati sebagai hari kebangkitan pemuda atau  hari sumpah pemuda. Sebuah penghargaan dan pemaknaan terhadap gemuruh persatuan yang berkumandang dengan pendeklarasian prinsip serta nilai kempemudaan bangsa indonesia yang pada saat itu menggema dikongres kedua pemuda indonesia 28 oktober 1928.

Perbedaan serta militansi pemuda dalam memperjuangakan keyakinan dan cita-cita kelompok mereka teretas menjadi satu, telah luluh oleh cita muliah pemuda tersebut dan melahir sebuah bangsa yang berbahasa, bertanah, dan berbamgsa satu  BANGSA INDONESIA.

Kerendahan hati pemuda tersebut hanya disebabkan oleh satu nilai yakni Patriotisme. Dan sebenarnya hal inilah yang hilang dibangsa ini yaitu militansi atau kerelewanan terhadap nusa bangsa indonesia dalam mencapai cita dan tujuannya pendirianya  sebagai negara Bangsa Indonesia.